Proyek Khusus

            Saya punya laptop baru. Dan saya berjanji bahwa dengan lapto baru ini saya akan lebih produktif dari sebelumnya. Tentu saja yang dimaksud produktif di sini adalah mampu menghasilkan tulisan yang bernas. Tulisan yang berisi gagasan dan tulisan-tulisan ilmiah yang (semoga saja) dapat berkontribusi dalam pengembangan dan pendokumentasian ilmu pengetahuan. Itulah definisi produktif yang saya maksud. Saya rasa itu bukan keinginan yang muluk-muluk. Itu adalah keinginan yang berakar dari profesi saya sebagai seorang dosen.

Untuk mengcapai objective tersebut, saya mencoba mengorganisir lapotp saya agar lebih teratur. Dulu, bila dianalogikan dengan rumah, laptop saya menyerupai rumah yang baru terkena Tsunami. Amburadul, berantakan, dan kacau. File bertebaran di mana-mana, folder tidak tersusun dengan apik, dan sebagainya. Ternyata hal ini sangat berpengaruh terhadap antusiasme saya dalam membuka laptop untuk bekerja. Saya agak malas untuk sekadar membuka laptop. Tidak hanya karena lapotop yang berantakan, namun juga karena performa laptop saya yang seperti motor butut.

Oleh karena itu, laptop baru ini saya coba rapikan sebaik mungkin untuk menghindari hal yang sama terjadi. Saya berkonsultasi dengan AI cara mengorganisir laptop agar bisa tersusun dengan baik dan rapi. Singkat cerita, saya akhirnya bisa mengorganisir laptop ini menjadi lebih baik. Salah satu folder yang muncul dalam laptop ini adalah proyek khusus. Folder ini berisi tentang rencana tulisan atau riset yang akan saya garap. Tidak semuanya adalah tulisan-tulisan serius. Beberapa folder yang ada dalam folder ini adalah cerpen, puisi, dan juga tulisan random harian.

Saya memang dari dulu ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari keseharian saya. Bukan karena saya ingin menjadi penulis (ya walaupun ada keinginan ke arah sana),  namun entah mengapa setiap kali selesai menulis, apapun bentuk tulisannya, saya merasa lega dan senang. Saya merasa bahwa saya telah melakukan sesuatu yang ‘baik’ dan ‘bermanfaat’. Dan perasaan itu yang membuat saya gembira selepas menulis. Tidak jarang saya membaca ulang tulisan-tulisan yang sudah saya jahit tersebut, hanya untuk merasakan kembali sensasi yang saya dapatkan saat menulis cerita tertentu.

Saat ini saya juga merasa bahwa menulis merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk bisa melambat, to slow down. Menjadi dewasa di saat ini, dengan tuntutan kerja dan laju kehidupan yang semakin cepat membuat saya merasa sering kali melewatkan hal-hal yang bermakna dalam hidup. Semua lewat begitu saja. Seperti angin yang berhembus—sejuk sebentar, kemudian hilang. Terlebih, adanya AI yang kian mengamplifikasi “kecepatan” laju hidup. Semua seolah harus instant. Dan sesuatu yang lambat seolah adalah dosa.



Itulah yang membuat saya akhirnya ingin kembali lagi mengupayakan untuk menjadikan menulis sebagai ritual harian. Bukan sekadar untuk gaya-gayaan, namun sebagai alat meditasi, kontemplasi, dan mensyukuri apa saja yang lewat dalam hidup saya. Saya juga berharap dengan menulis ini, kepekaan saya terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya signifikan namun sering terlewatkan dapat terbangun dan berkembang. Sekali lagi saya ingin menulis untuk slow down. Saya menulis untuk kembali ke diri saya sendiri.

 

RS Permata Depok, 14/08/2026

Comments

Popular Posts