Wedang Jahe

“Saya rasa, saya sudah menemukan passion saya, Man. Di sini, di penelitian ini, penelitian tentang ritual, tentang budaya, tentang folklore”, Ujar dosenku yang sudah menginjak kepala enam.
                                                    

“Why do you love Karate so much?” tanyaku kepada muridku yang masih SMP.
“I don’t know, Mister, I just love it”, jawabnya mantab.
                                                      

“Be the real Umar Ibn Al Khaththab, Mister, Allah loves you and us. Pray for me Mister, to always keep the dignity, keep my Islam always in my heart and 1-2 years later I have become the Al-Qur’an keeper. Really Mister, just because of hafidz. I can give present for my parents later in hereafter”, potongan surat yang selalu berhasil membuatku merinding ketika membacanya, yang ditulis oleh seorang yang baru saja lulus SMA.
 

***
       Potongan file dialog tersebut berhamburan ketika aku berpikir keras tentang tema tantangan menulis yang digagas oleh teman-temanku. Kami sepakat untuk menulis paling tidak satu tulisan setiap minggunya dan dipublish di blog pribadi masing-masing. Untuk bulan ini tema yang di usung cukup berat, yakni tentang kehidupan serta “thethek-mbengeknya”. And “Luckily”, untuk minggu pertama, yang sub temannya adalah life purpose, laptopku tiba-tiba ngambek, dan tidak mau menyala. Walhasil, tulisanpun sedikit tersendat, dan tidak bisa publish sesuai jadwal.

   Minggu ini aku sedang menyelesaikan buku “Petualangan Borneo” nya Sir Alfred Wallace. Minggu ini pula aku rutin menikmati Wedang Jahe karena ada sedikit gangguan di tenggorokanku. Perpaduan antara buku petualangan, aroma Wedang Jahe yang khas, serta topik tulisan tentang tujuan hidup yang ternyata cukup berat, membuatku berangan-angan tentang Pak Wallace. Aku bertanya-tanya, tentang pilihan hidupnya sebagai Naturalist. Sejak kapan beliau menemukan “panggilan” yang menuntunnya menjadi petualang, bagaimana proses penemuan panggilan tersebut serta tantangan apa yang dia hadapi selama memperjuangkan panggilan itu. Aku sedikit ragu apabila cerita tentang pencarian panggilan jiwanya itu tidak semenarik cerita petualangannya keluar masuk hutan.


Baiklah, lagi-lagi tulisan tentang tujuan hidup, tentang pencarian, tentang panggilan..... Sesuatu yang amat rumit, sesuatu yang sangat privat, yang kalau dipikir maupun tidak sebenarnya mampu membuat kepala menjadi pusing. Aku yakin seapatis apapun kita, pasti sempat, pada suatu titik di hidup, terlintas pertanyaan mendasar, “Untuk apa sih hidup?”, “Apa hidup cuma begini-begini saja? mengulang-ngulang rutinitas yang itu lagi-itu lagi?”, “Apakah hidup untuk mengejar uang, kekuasaan, fortune, atau fame?”, “Apakah hidup sedangkal itu? Sebatas melakukan apa yang kita sukai dan menghindari apa yang kita tidak suka? Apabila demikian, bukankah bayi pun sanggup melakukan hal tersebut?”, dan ratusan pertanyaan serupa yang pasti akan membuat kepala nyut-nyutan. Pertanyaan tersebut melekat bagai tinta permanen yang memaksa kita melakukan pencarian terhadap formulasi hidup personal kita. Ini adalah proses yang sangat wajar, kita mencari diri kita sendiri, kita mencari jati diri, kita mencari passion, dan mencari tujuan hidup.

Menuliskan hal tersebut tiba-tiba membuatku teringat pada perjalanan pencarianku sendiri. Kalau melihat kebelakang, sebenarnya tujuanku, my life purpose berubah-ubah seiring perjalanan waktu dan usia. Seingatku, dulu ketika aku masih SD, tujuan utamaku adalah mengalahkan teman yang selalu juara satu dikelas. Namun usaha tersebut selalu gagal, dan aku nyatanya hingga lulus sekolah dasar pun, tidak pernah mampu menjadi juara kelas. Beranjak ke bangku SMP, tujuanku mulai berganti, saat itu aku suka sekali Bahasa Inggris, menghapal kosa kata serta menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh guruku merupakan keasyikan tersendiri menurutku saat itu. Sehingga entah bagaimana tujuanku di usia tersebut  adalah menjadi seorang Guru Bahasa Inggris. Selanjutnya, saat aku belajar di SMA, tujuanku berganti lagi. Aku yang sebelumnya sangat getol belajar Bahasa Inggris, saat menginjak bangku SMA, mulai berpindah haluan. Aku jatuh cinta pada PKn, dan bertekat menjadi pengacara saat itu. Tetapi bukannya masuk ke jurusan IPS, aku malah keblusuk masuk ke jurusan IPA. Otomatis, selain teman-teman dan kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti, tidak ada hal lain yang bisa aku nikmati di jurusan IPA tersebut. Dan, ketika masuk jurusan IPA itu pula, keinginan-keinginan yang bergonta-ganti itu pudar. Hilang, literally lost!  Berganti gelap. Karena aku tidak tau apa yang aku sebenarnya inginkan!

Namun kesalahan dan perubahan tersebut lah yang pada akhirnya membawa cerita tersendiri. Singkat cerita, ketika lulus SMA tanpa satupun gambaran akan masa depan. Saat yang terlihat di depan hanyalah ketidak pastian, saat itu pula rangkain-rangkain cerita yang tak terduga datang silih berganti. Mulai dari cerita Surabaya, Pare, Bogor, Jakarta, Rembang, hingga Malang, semua adalah rangkaian yang malahan terjadi saat semua hal terlihat bagai kaca yang berembun - buram. 

Tidak semua orang, pastinya, berproses seperti itu. Ada yang telah menemukan jawaban akan pencariannya saat mereka masih terbilang belia, ada mungkin sebagian yang menemukannya saat menginjak remaja atau dewasa, bahkan tidak sedikit pula yang baru bisa menemukannya saat memasuki usia senja. Semua tergantung pada diri pribadi masing-masing. Pada pengalaman dan sensitifitas pribadi dalam membaca tanda. Tapi mari coba kita renungkan proses yang kita alami untuk menemukan our-truly-self tersebut, menemukan a calling from within which modern people call it, passion! Atau simply menemukan tema dari tulisan ini, life purpose.

(Mari seruput wedang jahe dulu)

Ada paling tidak, menurutku, empat proses untuk menemukan jawaban dari pencarian tersebut, yakni bertanya (Questioning), mencari (Searching), mencoba (Copying and trying), dan menemukan (Finding). Proses pertama, bertanya, adalah saat dimana kosa kata GALAU muncul. Kita galau akan pilihan, kita galau akan hidup, kita galau akan semua hal yang sudah ada. Saat itulah lantas kita mulai bertanya-tanya tentang rumusan-rumusan hidup. Mencoba menerka pola abstrak dari liku-liku perjalanan. Hingga pada akhirnya kita mulai melakukan pencarian. Kita mencari lewat bacaan-bacaan, lewat biografi, lewat cerita sesepuh, lewat sejarah, lewat alam, lewat budaya, lewat kopi, atau bahkan lewat wedang jahe dan juga semua yang ada di sekitar kita.

Terkadang kita merasa tertarik dan ingin menjadi seperti orang yang kita baca, orang yang kita temui. Kita kagum dan mencoba melakukan hal yang sama. Melakukan hal-hal besar yang bisa dicatat tinta emas sejarah. Kita meniru idola, meniru orang lain, sambil diam-diam berharap bahwa kita menemukan diri kita dalam percobaan-percobaan tersebut. Kita terus mencari, berpindah-pindah, meloncat dari kemungkinan A, B, C,  sampai Z, kita mencoba menjadi si X, si V atau si-si yang lain. Kita terbentur-bentur bak bola bekel, melompat random dari probabilitas ini ke itu. kita salah mengambil jurusan, pekerjaan atau bahkan pasangan! Tidak mengapa sebenarnya, karena itulah proses. Kesalahan, letupan dan benturan itulah yang membawa kita pada proses terakhir. Proses menemukan. Kita mulai sadar bahwa yang kita cari bukan di luar sana, bahwa sumber otentik dari jawaban akan pertanyaan bukan diambil dari mencoba menjadi orang lain. Kita menemukan bahwa proses pencarian itulah yang membawa kita ke kesimpulan bahwa what we’ve been searching is already within.

Bisa saja proses pencarian itu membutuhkan waktu dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau bahkan sepanjang usia untuk dapat memahami tujuan hidup kita ini. Sama dengan potongan obrolan yang aku sebutkan diatas. Dimana masing masing menemukan kemantabannya di usia yang berbeda-beda. Bisa juga nantinya kesimpulan akan jawaban pertanyaan tersebut berubah-ubah lagi dan lagi dalam jangka waktu yang lama. Tidak jadi soal sebenarnya, karena memang tahapan pencarian dari Questioning hingga Finding itu tidak berbentuk tangga piramida yang menempatkan finding sebagai puncaknya, melainkan berbentuk siklus bulat yang terus berputar. Kadang kita mantab dengan pilihan kita dan menganggapnya benar-benar passion, sampai pada akhirnya kita mulai ragu dan mempertanyakan lagi pilihan kita tersebut. Lantas setelah itu kita membaca lagi, ber kontemplasi, memikirkan dengan lebih luas tentang hidup, tentang finding yang sudah kita genggam, lagi dan lagi. Kita masuk ke putaran proses itu sekali lagi, dan menemukan rumusan-rumusan baru yang lebih segar, menemukan kesimpulan yang baru. Kita terus berputar dalam pencarian-pencarian, melalui proses yang mungkin memusingkan dan melelahkan hingga pada akhirnya kita sampai pada titik dimana kita benar-benar mantab dan yakin dengan pilihan kita.

Bisa jadi rumusan yang kita miliki, simpulan atau finding dari jawaban yang selama ini kita cari nantinya tidak memberikan opsi untuk menjadikan kita kaya secara materil, tidak dianggap normal secara moril, tidak sejalan dengan paradigma mainstream. Bisa jadi pilihan tersebut membuat kita jatuh miskin, dekat dengan orang yang dianggap sinting, memaksa kita bergumul dengan lumpur, dupa, kemenyan, buku super tebal dan hal lain yang tidak mengenakkan bagi orang lain. Ataupun sebaliknya, kita “menemukan diri kita” di bawah lampu sorot, dibawah guyuran kedipan kamera atau hal lain yang bagi sebagian yang lain terkesan sangat-sangat worldly atau superficial. Tidak mengapa, selama kita yakin bahwa itulah lentera jiwa kita, jangan ragu untuk memperjuangkannya.

Gambar terkait
google image 

                (Hemm aku baru sadar bahwa wedang jahe itu ternyata nikmat sekali, tidak kalah dengan kopi sebagai teman di pagi hari).

Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana denganmu kawan? Proses mana yang kamu sedang injak saat ini? Sudah sampai ke putaran keberapa proses pencarianmu? Sudah berapa Findings yang pada akhirnya kamu pertanyakan lagi? Sudahkah menemukan a calling from within itu? menemukan life purpose? kalaupun belum sebenarnya tidak apa-apa, karena akupun juga masih dan terus mencari, masuk ke lingkaran proses satu ke yang lain, menemukan findings dan mempertanyakannya lagi dan lagi.

Tapi semisal kalian tanya apa life purpose yang aku miliki, aku pribadi, saat ini "cuma" ingin menjadi orang yang berguna saja, (sambil tentunya tetap rutin menikmati Wedang Jahe). Entah dalam skala besaran apa kebergunaanku, yang penting aku tidak hidup untuk diri sendiri. Karena dengan cara itulah aku bisa menjadi kenangan. Aku ingin menjadi kenangan yang baik bagi orang-orang yang aku kenal, karena toh pada akhirnya kita hanya akan menjadi kenangan, bukan? tinggal kita memilih mau menjadi kenangan seperti apa nanti.

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya fa.. emang wajar berubah2 gitu.. it means we grow kan.. jadi mimpinya ngikuti kapasitas itu sendiri.. anyway, ide kamu tentang gerakan perubahan sangat luar biasa .. semoga bisa terealisasi fa.. aamiin..
      Ayo mulai di cicil mimpi2nya

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Iya fa.. step by step.. semoga bisa terelaisasi semua.. btw kabar usaha kamu gimana sekarang?
      Loh asyiknya, penelitian budaya. Kenapa ngga sanggup fa? Kayaknya seru deh itu

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. Wow, planning kamu padet banget fa.. aku yang baca aja udah pusing ngebayangin nya 😅😅
      Btw kalo penelitian budaya emang kayak gitu sih tantangannya.. susah senangnya dapet, tapi kalo udah jatuh hati sama penelitian budaya gitu, sejauh apapun bakal di jalanin.. 💂

      Delete
    6. This comment has been removed by the author.

      Delete
    7. Iya fa.. selesein dulu deh sekolahnya, bisnisnya nanti Ja hehe.. dialektologi ilmu tentang dialek, ya

      Delete
    8. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Tujuan hidupku juga berubah macam gaya rambutku yang suka berubah dalam waktu setahun. Kadang berubah karena bosan atau karena idolaku punya rambut bagus dan aku pen kek dia . Haha... Tapi emang bener si Man. Kita pada akhirnya memilih kenanangan seperti apa. Cheers for life!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh itu rahasia style rambut kamu selalu aptudet yah fan.. no wonder deh kalo gitu hehehu..
      Sip fan, be a good memory, cheers for life 😂

      Delete

Post a Comment

Popular Posts