Wedang Jahe
“Why do you
love Karate so much?” tanyaku kepada muridku yang masih SMP.
“Be the real Umar Ibn Al Khaththab, Mister,
Allah loves you and us. Pray for me Mister, to always keep the dignity, keep my
Islam always in my heart and 1-2 years later I have become the Al-Qur’an
keeper. Really Mister, just because of hafidz. I can give present for my
parents later in hereafter”, potongan
surat yang selalu berhasil membuatku merinding ketika membacanya, yang
ditulis oleh seorang yang baru saja lulus SMA.
***
Potongan file dialog tersebut berhamburan ketika aku
berpikir keras tentang tema tantangan
menulis yang digagas oleh teman-temanku. Kami sepakat untuk menulis paling
tidak satu tulisan setiap minggunya dan dipublish di blog pribadi
masing-masing. Untuk bulan ini tema yang di usung cukup berat, yakni tentang
kehidupan serta “thethek-mbengeknya”. And “Luckily”, untuk minggu pertama, yang
sub temannya adalah life purpose, laptopku tiba-tiba ngambek, dan tidak mau
menyala. Walhasil, tulisanpun sedikit tersendat, dan tidak bisa publish sesuai
jadwal.
Minggu ini aku sedang menyelesaikan buku “Petualangan Borneo” nya Sir Alfred Wallace. Minggu ini pula aku rutin menikmati Wedang Jahe karena ada sedikit gangguan di tenggorokanku. Perpaduan antara buku petualangan, aroma Wedang Jahe yang khas, serta topik tulisan tentang tujuan hidup yang ternyata cukup berat, membuatku berangan-angan tentang Pak Wallace. Aku bertanya-tanya, tentang pilihan hidupnya sebagai Naturalist. Sejak kapan beliau menemukan “panggilan” yang menuntunnya menjadi petualang, bagaimana proses penemuan panggilan tersebut serta tantangan apa yang dia hadapi selama memperjuangkan panggilan itu. Aku sedikit ragu apabila cerita tentang pencarian panggilan jiwanya itu tidak semenarik cerita petualangannya keluar masuk hutan.
Baiklah, lagi-lagi tulisan tentang
tujuan hidup, tentang pencarian, tentang panggilan..... Sesuatu yang amat
rumit, sesuatu yang sangat privat, yang kalau dipikir maupun tidak sebenarnya
mampu membuat kepala menjadi pusing. Aku yakin seapatis apapun kita, pasti
sempat, pada suatu titik di hidup, terlintas pertanyaan mendasar, “Untuk apa
sih hidup?”, “Apa hidup cuma begini-begini saja? mengulang-ngulang rutinitas
yang itu lagi-itu lagi?”, “Apakah hidup untuk mengejar uang, kekuasaan, fortune, atau fame?”, “Apakah hidup sedangkal itu? Sebatas melakukan apa yang
kita sukai dan menghindari apa yang kita tidak suka? Apabila demikian, bukankah
bayi pun sanggup melakukan hal tersebut?”, dan ratusan pertanyaan serupa yang pasti
akan membuat kepala nyut-nyutan. Pertanyaan
tersebut melekat bagai tinta permanen yang memaksa kita melakukan pencarian
terhadap formulasi hidup personal kita. Ini adalah proses yang sangat wajar,
kita mencari diri kita sendiri, kita mencari jati diri, kita mencari passion, dan mencari tujuan hidup.
Menuliskan hal tersebut tiba-tiba membuatku
teringat pada perjalanan
pencarianku sendiri. Kalau melihat kebelakang, sebenarnya tujuanku, my life purpose berubah-ubah seiring
perjalanan waktu dan usia. Seingatku,
dulu ketika aku masih SD,
tujuan utamaku adalah mengalahkan teman yang selalu juara satu dikelas. Namun usaha tersebut selalu
gagal, dan aku nyatanya hingga lulus sekolah dasar pun, tidak pernah mampu
menjadi juara kelas. Beranjak ke bangku SMP, tujuanku mulai berganti, saat itu
aku suka sekali Bahasa Inggris, menghapal kosa kata serta menjawab setiap
pertanyaan yang diajukan oleh guruku merupakan keasyikan tersendiri menurutku
saat itu. Sehingga entah bagaimana tujuanku di usia tersebut adalah menjadi seorang Guru Bahasa Inggris.
Selanjutnya, saat aku belajar di SMA, tujuanku berganti lagi. Aku yang
sebelumnya sangat getol belajar Bahasa Inggris, saat menginjak bangku SMA,
mulai berpindah haluan. Aku jatuh cinta pada PKn, dan bertekat menjadi pengacara
saat itu. Tetapi bukannya masuk ke jurusan IPS, aku malah keblusuk masuk ke jurusan IPA. Otomatis, selain teman-teman dan
kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti, tidak ada hal lain yang bisa aku
nikmati di jurusan IPA tersebut. Dan, ketika masuk jurusan IPA itu pula,
keinginan-keinginan yang bergonta-ganti itu pudar. Hilang, literally lost! Berganti gelap. Karena aku tidak
tau apa yang aku sebenarnya inginkan!
Namun kesalahan dan perubahan tersebut lah yang pada akhirnya
membawa cerita tersendiri. Singkat cerita, ketika lulus SMA tanpa satupun
gambaran akan masa depan. Saat yang terlihat di depan hanyalah ketidak pastian,
saat itu pula rangkain-rangkain cerita yang tak terduga datang silih berganti.
Mulai dari cerita Surabaya, Pare, Bogor, Jakarta, Rembang, hingga Malang, semua
adalah rangkaian yang malahan terjadi saat semua hal terlihat bagai kaca yang
berembun - buram.
Tidak semua orang, pastinya,
berproses seperti itu. Ada yang telah menemukan jawaban akan pencariannya saat
mereka masih terbilang belia, ada mungkin sebagian yang menemukannya saat
menginjak remaja atau dewasa, bahkan tidak sedikit pula yang baru bisa
menemukannya saat memasuki usia senja. Semua tergantung pada diri pribadi
masing-masing. Pada pengalaman dan sensitifitas pribadi dalam membaca tanda. Tapi
mari coba kita renungkan proses yang kita alami untuk menemukan our-truly-self tersebut, menemukan a calling from within which modern people call it,
passion! Atau simply menemukan tema dari tulisan ini, life purpose.
(Mari seruput wedang jahe dulu)
Ada paling tidak, menurutku, empat proses untuk menemukan jawaban dari
pencarian tersebut, yakni bertanya (Questioning), mencari (Searching), mencoba (Copying
and trying), dan menemukan (Finding).
Proses pertama, bertanya, adalah saat dimana kosa kata GALAU muncul. Kita galau
akan pilihan, kita galau akan hidup, kita galau akan semua hal yang
sudah ada. Saat itulah
lantas kita mulai bertanya-tanya
tentang rumusan-rumusan hidup. Mencoba menerka pola abstrak dari
liku-liku perjalanan. Hingga pada akhirnya kita mulai melakukan pencarian. Kita
mencari lewat bacaan-bacaan, lewat biografi, lewat cerita sesepuh, lewat
sejarah, lewat alam, lewat budaya, lewat kopi, atau bahkan lewat wedang jahe
dan juga semua yang ada di sekitar kita.
Terkadang kita merasa tertarik dan ingin menjadi
seperti orang yang kita baca, orang yang kita temui. Kita kagum dan mencoba
melakukan hal yang sama. Melakukan
hal-hal besar yang bisa dicatat tinta emas sejarah. Kita meniru idola,
meniru orang lain, sambil diam-diam berharap bahwa kita menemukan diri kita
dalam percobaan-percobaan tersebut. Kita terus mencari, berpindah-pindah,
meloncat dari kemungkinan A, B, C, sampai
Z, kita mencoba menjadi si X, si V atau “si”-“si” yang lain. Kita terbentur-bentur bak
bola bekel, melompat random dari probabilitas ini ke itu. kita salah mengambil
jurusan, pekerjaan atau bahkan pasangan! Tidak mengapa sebenarnya, karena
itulah proses. Kesalahan, letupan dan benturan itulah yang membawa kita pada
proses terakhir. Proses menemukan. Kita mulai sadar bahwa yang kita cari bukan
di luar sana, bahwa sumber otentik dari jawaban akan pertanyaan bukan diambil
dari mencoba menjadi orang lain. Kita menemukan bahwa proses pencarian itulah
yang membawa kita ke kesimpulan bahwa what
we’ve been searching is already within.
Bisa saja proses pencarian itu membutuhkan waktu dua puluh tahun, tiga
puluh tahun, atau bahkan sepanjang usia untuk dapat memahami tujuan hidup kita
ini. Sama dengan potongan obrolan
yang aku sebutkan diatas. Dimana
masing masing menemukan kemantabannya di usia yang berbeda-beda. Bisa
juga nantinya kesimpulan akan jawaban pertanyaan tersebut berubah-ubah lagi dan
lagi dalam jangka waktu yang lama. Tidak jadi soal sebenarnya, karena memang
tahapan pencarian dari Questioning hingga
Finding itu tidak berbentuk tangga
piramida yang menempatkan finding sebagai
puncaknya, melainkan berbentuk siklus bulat yang terus berputar. Kadang kita
mantab dengan pilihan kita dan menganggapnya benar-benar passion, sampai pada akhirnya kita mulai ragu dan mempertanyakan
lagi pilihan kita tersebut. Lantas setelah itu kita membaca lagi, ber
kontemplasi, memikirkan dengan lebih luas tentang hidup, tentang finding yang sudah kita genggam, lagi
dan lagi. Kita masuk ke putaran proses itu sekali lagi, dan menemukan
rumusan-rumusan baru yang lebih segar, menemukan kesimpulan yang baru. Kita
terus berputar dalam pencarian-pencarian, melalui proses yang mungkin
memusingkan dan melelahkan hingga pada akhirnya kita sampai pada titik dimana
kita benar-benar mantab dan yakin dengan pilihan kita.
Bisa jadi rumusan yang kita miliki,
simpulan atau finding dari jawaban
yang selama ini kita cari nantinya tidak memberikan opsi untuk menjadikan kita
kaya secara materil, tidak dianggap normal secara moril, tidak sejalan dengan
paradigma mainstream. Bisa jadi pilihan tersebut membuat kita jatuh miskin,
dekat dengan orang yang dianggap sinting, memaksa kita bergumul dengan lumpur,
dupa, kemenyan, buku super tebal dan hal lain yang tidak mengenakkan bagi orang
lain. Ataupun sebaliknya, kita “menemukan diri kita” di bawah lampu sorot,
dibawah guyuran kedipan kamera atau hal lain yang bagi sebagian yang lain terkesan sangat-sangat worldly atau superficial. Tidak
mengapa, selama kita yakin bahwa itulah lentera jiwa kita, jangan ragu untuk
memperjuangkannya.
![]() |
| google image |
(Hemm
aku baru sadar bahwa wedang jahe itu ternyata nikmat sekali, tidak kalah dengan
kopi sebagai teman di pagi hari).
Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana denganmu kawan? Proses mana yang kamu
sedang injak saat ini? Sudah sampai ke putaran keberapa proses pencarianmu? Sudah
berapa Findings yang pada akhirnya
kamu pertanyakan lagi? Sudahkah menemukan a
calling from within itu? menemukan life
purpose? kalaupun belum sebenarnya tidak apa-apa, karena akupun juga masih
dan terus mencari, masuk ke lingkaran proses satu ke yang lain, menemukan
findings dan mempertanyakannya lagi dan lagi.
Tapi semisal kalian tanya apa life purpose yang aku miliki, aku pribadi,
saat ini "cuma" ingin menjadi orang yang berguna saja, (sambil tentunya tetap rutin menikmati Wedang Jahe). Entah dalam skala besaran apa
kebergunaanku, yang penting aku tidak hidup untuk diri sendiri. Karena
dengan cara itulah aku bisa menjadi kenangan. Aku ingin menjadi kenangan yang
baik bagi orang-orang yang aku kenal, karena toh pada akhirnya kita hanya akan
menjadi kenangan, bukan? tinggal kita memilih mau menjadi kenangan seperti apa nanti.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteIya fa.. emang wajar berubah2 gitu.. it means we grow kan.. jadi mimpinya ngikuti kapasitas itu sendiri.. anyway, ide kamu tentang gerakan perubahan sangat luar biasa .. semoga bisa terealisasi fa.. aamiin..
DeleteAyo mulai di cicil mimpi2nya
This comment has been removed by the author.
DeleteIya fa.. step by step.. semoga bisa terelaisasi semua.. btw kabar usaha kamu gimana sekarang?
DeleteLoh asyiknya, penelitian budaya. Kenapa ngga sanggup fa? Kayaknya seru deh itu
This comment has been removed by the author.
DeleteWow, planning kamu padet banget fa.. aku yang baca aja udah pusing ngebayangin nya 😅😅
DeleteBtw kalo penelitian budaya emang kayak gitu sih tantangannya.. susah senangnya dapet, tapi kalo udah jatuh hati sama penelitian budaya gitu, sejauh apapun bakal di jalanin.. 💂
This comment has been removed by the author.
DeleteIya fa.. selesein dulu deh sekolahnya, bisnisnya nanti Ja hehe.. dialektologi ilmu tentang dialek, ya
DeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteTujuan hidupku juga berubah macam gaya rambutku yang suka berubah dalam waktu setahun. Kadang berubah karena bosan atau karena idolaku punya rambut bagus dan aku pen kek dia . Haha... Tapi emang bener si Man. Kita pada akhirnya memilih kenanangan seperti apa. Cheers for life!
ReplyDeleteOh itu rahasia style rambut kamu selalu aptudet yah fan.. no wonder deh kalo gitu hehehu..
DeleteSip fan, be a good memory, cheers for life 😂